Penulis: Rena Dwi Astuti
Pernahkah kamu scrolling akun media sosial dan menemukan kerabatmu sedang melakukan jenis olahraga seperti tenis, tapi sebenarnya bukan tenis? Atau, pernahkah kamu datang ke sebuah lapangan olahraga dan ada salah satu lapangan yang terlihat asing namun ternyata familiar?
Mungkin, kamu sedang melihat jenis olahraga padel. Olahraga ini sebenarnya mirip seperti olahraga tenis karena sama-sama menggunakan raket. Namun, sebenarnya olahraga padel memiliki cara kerja yang menggabungkan tenis dan squash.
Akhir-akhir ini, olahraga padel menjadi salah satu olahraga yang populer di kalangan masyarakat. Bahkan, beberapa di antaranya mulai kecanduan berolahraga padel. Hal itu dipengaruhi oleh banyak faktor.
Selain karena perkembangan olahraga yang pesat, faktor media sosial dan menjamurnya lapangan padel juga menjadi salah satu penyebab olahraga ini mulai digandrungi oleh orang-orang. Di Indonesia sendiri, olahraga padel mulai menjadi olahraga populer sejak 2023. Dan semakin meningkat popularitasnya seiring waktu.
Sejarah Olahraga Padel
Olahraga padel sebenarnya bukan cabang olahraga baru di dunia. Olahraga ini ditemukan oleh Enrique Corcuera pada tahun 1969 di Meksiko. Ia menggabungkan olahraga tenis dan squash di lapangan rumahnya. Sehingga muncullah olahraga padel ini.
Saat itu, Corcuera mengajak teman-temannya untuk memainkan olahraga yang ia namakan sebagai “Paddle Corcuera” itu. Salah satu temannya ada yang berasal dari Spanyol, yaitu Alfonso of Hohenlohe-Langenburg.
Alfonso pun mulai menyebarkan olahraga ini ke Spanyol setelah ia diajak bermain oleh Corcuera. Alfonso akhirnya memperkenalkan olahraga padel dan membuat lapangannya di Spanyol pada tahun 1974. Akan tetapi, Alfonso telah memodifikasi olahraga padel menjadi lebih kompetitif ketika ia memperkenalkannya di Spanyol.
Hingga beberapa tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1991, olahraga padel diresmikan sebagai cabang olahraga baru. Bahkan, olahraga ini memiliki federasi yang bernama Federation International de Padel (FIP) di Madrid, Spanyol.
Apa Bedanya Padel dan Tenis?
Olahraga padel memang menggabungkan olahraga tenis dan squash. Hanya saja, olahraga padel dan tenis memiliki beberapa perbedaan yang mencolok. Mulai dari alat bermain hingga cara bermainnya.
Olahraga padel dilakukan dengan raket berbahan fiberglass yang kokoh dan dengan ukuran gagang yang lebih pendek daripada tenis. Raket olahraga padel juga didesain menggunakan busa, berbeda dengan raket tenis yang menggunakan senar.

Selain itu, bola yang digunakan dalam olahraga padel juga lebih kecil daripada tenis. Bola padel memiliki ukuran antara 6,35 cm dan 6,77 cm. Sementara bola tenis berukuran antara 6,54 cm dan 6,86 cm.
Karena bentuk raket dan bola olahraga padel yang lebih kecil daripada tenis, otomatis ukuran lapangan olahraga padel juga menjadi lebih kecil dan pendek daripada lapangan tenis. Lapangan padel hanya memiliki ukuran 20 meter x 10 meter, berbeda dengan lapangan tenis yang berukuran 23 meter x 11 meter.
Cara Bermain Olahraga Padel
Olahraga padel memiliki cara bermain yang hampir mirip dengan tenis. Namun, tetap ada aturan dan perbedaan di dalamnya.
Olahraga padel hanya bisa dimainkan di lapangan khusus padel dengan 2 pasang pemain (ganda). Pemain juga harus melakukan servis menggunakan teknik underarm.

Teknik ini dilakukan dengan cara di bawah ketiak dan memukul bola dengan arah diagonal ke arah lawan. Saat melakukan servis, seseorang harus berada di luar garis lapangan.
Olahraga padel memiliki tiga set pertandingan. Yaitu 15-30-40. Pemegang bola pada set pertama dilakukan dengan cara melemparkan koin sebelum pertandingan dimulai.
Lalu, bagaimana perhitungan poinnya?
Sejatinya, olahraga padel memiliki perhitungan poin yang sama dengan tenis, yaitu 15-30-40. Tim yang berhasil memenangkan dua set pertama otomatis akan menjadi pemenang. Namun, deuce akan diberlakukan ketika kedudukan imbang 40-40.
Ada beberapa aturan yang harus dilakukan oleh tim untuk menambah poin. Pertama, pukulan bola harus melewati net dan mengarah diagonal ke lawan. Jika bola memantul ke arah dinding kaca lapangan, lawan boleh memukul bola.
Namun, jika bola telah memantul ke arah kaca dan tidak bisa dikembalikan oleh lawan, yang membuat bola memantul ke lantai, tim kamu dapat menambah poin. Hal itu berlaku sebaliknya untuk tim lawan.
Kedua, jika bola yang kamu pukul mengenai tanah di area lawan, bola tersebut tetap hidup ketika memantul ke dinding kaca lapangan atau ke kawat lapangan. Bola masih tetap hidup walaupun memantul beberapa kali ke area dinding lawan.
Bola hidup itu masih boleh dikembalikan oleh lawan untuk melanjutkan pertandingan, dengan catatan bola itu tidak boleh memantul dua kali ke permukaan lapangan. Poin akan bertambah jika lawan tidak bisa mengembalikan bola.