Musim balapan F1 tahun ini akan menarik. Ada perubahan regulasi yang membuat tim perlu merombak dan menyusun ulang mobil-mobil mereka. Dan, yang tidak kalah penting adalah perubahan pada penggunaan perubahan bahan bakar.
GP Australia mendatang akan menjadi kali pertama pembalap F1 menggunakan “Bahan Bakar Berkelanjutan yang Canggih”. Sebelum digunakan untuk balapan F1, penggunaan bahan bakar berkelanjutan ini telah diuji coba di balapan F2 dan F3.
FIA mengambil langkah besar lewat perubahan ini. Federasi menetapkan batasan bahwa bahan bakar harus menghemat 65 persen atau lebih gas rumah kaca dibandingkan dengan bahan bakar fosil sebelumnya.
“Saya suka ketika ada perubahan alur cerita, ketika ada peraturan baru. Pada awalnya, Anda berpikir ‘sekarang hidup saya sangat sulit. Saya harus mulai dari awal dan berpikir berbeda’, tetapi itulah yang memicu kegembiraan. Serangkaian peraturan baru, tujuan baru meningkatkan standar untuk membuat permainan lebih sulit tetapi juga jauh lebih menyenangkan,” ungkap Valeria Loreti, Kepala Ilmuwan Shell untuk Motorsport ditanya mengenai tantangan terkait regulasi baru F1, mengutip The Race.
Misi Net Zero Carbon 2030 FIA untuk F1

Jika aturan sebelumnya hanya berfokus pada perubahan mesin (sasis) saja, lewat regulasi yang baru FIA berupaya untuk menangani setiap aspek desain untuk menciptakan era baru di mana balapan akan lebih kompetitif, aman, dan tentunya berkelanjutan. Untuk itu, F1 berencana untuk mencapai Net Zero Carbon 2030.
Untuk mencapai target tersebut, FIA kemudian mempelopori regulasi bahan bakar ‘drop-in’ 100 persen berkelanjutan. Rencananya, formulasi bahan bakar tersebut bukan hanya digunakan pada mobil-mobil F1, tetapi juga dapat digunakan oleh mobil-mobil yang berkeliaran di jalan raya di seluruh dunia.
Dalam upaya menciptakan bahan bakar berkelanjutan ini, Pat Symonds yang merupakan Kepala Bagian Teknis F1 memimpin sebuah tim yang fokus pada pembuatan bahan bakar sejak tahun 2022. Tidak sendirian, FIA juga ikut menjalin kerja sama dengan Aramco yang merupakan perusahaan minyak dan gas milik Arab Saudi.
“Saat pertama kali saya berbicara dengan orang-orang tentang hal ini, tidak ada yang tahu apa yang saya bicarakan. Dan jujur saja saya sendiri pun tidak yakin. Jadi saya telah melakukan banyak sekali riset tentang hal ini. Kami telah bekerja sama erat dengan FIA, yang memiliki beberapa spesialis bahan bakar yang sangat baik. Dan kami telah mendapat banyak bantuan dari mitra kami, Aramco.”
Dalam perjalannya menuju era baru, sejak tahun 2024 kemarin, unit daya hibrida F1 telah menggunakan bahan bakar E10. Bahan bakar E10 yang merupakan campuran antara 90 persen bahan bakar dan 10 persen etanol terbarukan.
“Sebanyak 10 persen etanol yang kami masukkan sekarang sepenuhnya berkelanjutan. Ada banyak jenis etanol yang berbeda, yang bervariasi kualitasnya, tetapi ini adalah etanol hijau sejati. Jadi sepenuhnya berkelanjutan,” ungkap Pat Symonds dalam wawancaranya.
Selain itu, F1 juga telah memanfaatkan solusi energi alternatif seperti bahan bakar HVO untuk mendukung acara dan perpindahan logistik mereka dari kota ke kota sepanjang musim.
Era baru bagi F1

Revolusi bahan bakar untuk F1 pun benar-benar dimulai. Demi wujudkan Net Zero Carbon 2030, FIA telah mewajibkan penggunaan bahan bakar berkelanjutan. Yakni, bahan bakar yang berasal dari ‘Komponen Berkelanjutan Tingkat Lanjut’ atau ‘Advanced Sustainable Components’ (ASC).
Kemudian, memastikan bahwa bahan bakar tersebut bersumber dari biomassa non-pangan, bahan baku terbarukan yang bukan berasal dari sumber biologis atau limbah kota, dan memenuhi ambang batas emisi gas rumah kaca yang ketat.
Untuk memastikan kepatuhan terhadap standar yang ketat ini, FIA telah berkolaborasi dengan Zemo Partnership, penyedia layanan penjaminan independen. Tujuannya untuk mengembangkan Skema Penjaminan Bahan Bakar Balap Berkelanjutan (Sustainable Racing Fuel Assurance Scheme/SRFAS).
Skema ini menggunakan proses verifikasi pihak ketiga yang kuat untuk menjamin bahwa semua bahan bakar balap Formula 1 memenuhi kriteria FIA untuk komposisi bahan bakar campuran dan keberlanjutan komponen berkelanjutan canggihnya (Advanced Sustainable Components/ASCs).
Untuk melakukan hal ini, SRFAS akan menerapkan proses verifikasi yang ketat. Terutama pada pelacakan asal dan pergerakan setiap ASC di seluruh rantai pasokan untuk memastikan kepatuhan terhadap kriteria ketat FIA. Kemudian analisis bahan bakar balap campuran untuk memverifikasi komposisi yang akurat dan ketertelusuran ASC. Serta, kinerja emisi untuk memastikan bahan bakar memenuhi target keberlanjutan FIA.